Setelah Kamu Pergi
Bagian I — Merawat tanya yang tak pernah sampai
Kalau ditanya, apa yang ada di kepalaku setelah kamu pergi?
Akan kujawab ;
Aku benci tentang bagaimana aku masih ingin kamu kembali setelah semua kesalahan yang telah kamu lakukan;
aku muak tentang bagaimana aku tidak pernah bisa membencimu.
Bahkan setelah aku memikirkan semua keburukanmu,
yang kutemukan hanya keinginan
Untuk kembali bersamamu.
Kisah Kita Tapi Tanpamu
Bagian II — Lembaran kertas putih yang menuntut
Puisi itu bukan sekadar seni menulis,
tapi juga seni menghapus dan mempertahankan kata.
Seperti menghapus dia demi mempertahankanmu,
karena nyatanya tak semua hal bisa ditulis—
atau sebaliknya: ada hal yang hanya ada di dalam tulisan,
seperti kita yang tak lebih dari sekadar kata.
Kita itu bukan sekadar seni berjuang,
tapi juga seni mengikhlaskan.
Karena setelah dia terhapus, kau ikut menghilang.
Di puisi ini, tinggal aku...
menulis kisah kita,
tapi tanpamu.
Puisiku Jatuh Cinta Kepada Matamu
Bagian III — Baris-baris sunyi yang merangkak pelan
Dalam pengembaraannya, puisiku akhirnya menemukan matamu,
Dan dia tak lagi mau pulang kepada mata pena yang semalam kuterjang.
Matamu, rumah yang nyaman bagi puisi,
Sebuah gerbang terbuka menuju ke hati.
Kisah Yang Lanjut Kita Yang Usai
Bagian IV — Arsip rindu yang menepi sendiri
Sekian tahun aku tak lagi menghitung;
perpisahan telah lebih lama daripada bersama.
Di suatu jumpa yang tidak disengaja, kau nampak telah melupakan segalanya—
lebih tepatnya, segala hal baik tentang kita.
Dengan kata lain, kau hanya mengingat yang buruk-buruk saja.
Entah ini adil atau tidak;
disaat kau menghafal kejahatanku, aku justru hanya mampu mengingat indahmu.
Semua kejahatanmu sudah menerima ganjarannya;
kupenjara di dalam lupa,
karena bukankah tiada hukuman yang lebih mengerikan selain dilupakan?